Aulia Dina Oktavia
(20107020006)
Teori
Dramaturgi Goffman
Erving
Goffman (1922-1982) telah memberikan sumbangannya terhadap sosiologi. Ia
dikenal sebagai pencletus teori dramaturgi. Tokoh yang memengaruhi pemikiran
Goffman adalah George Herbert Mead mengenai konsep The Self, dan Charles Cooley
tentang The Looking Glass Self. Karya Goffman yang sangat populer adalah The
Persentation of Self in Everyday Life (1959).
Saya
mengenal teori Goffman bukan dari buku aslinya melainkan dari buku Teori Sosiologi
Modern karya Ritzer, George (2012), serta dari beberapa jurnal yang saya baca. Buku
ini menjelaskan mengenai teori dramaturgi. Teori dramaturgi merupakan interaksi
sosial yang dimaknai dengan pertunjukan teater atau pentas yang mempertunjukkan peran. Disini individu berperan sebagai aktor. Dimana individu memiliki karakter yang berbeda ketika berada di depan dan di belakang layar.
Dalam pemahaman saya, teori
dramaturgi dipahami sebagai sebuah teori mengenai bagaimana individu tampil
dalam masyarakat. Dalam berinteraksi dengan sesama, individu dapat menyajikan
suatu “pertunjukan” apapun kepada orang lain. Suatu individu dapat memanagemen
dirinya sendiri agar dapat diterima dan disukai dalam masyarakat. Namun, kesan
atau impression yang diperoleh orang terhadap pertunjukan yang diberikan itu
dapat berbeda-beda
Panggung depan atau front
stage merupakan suatu bagian yang berguna dalam mengartikan kondisi penonton
pertunjukan. Artinya, seorang individu akan menyembunyikan perasaanya (sedih,
marah, gelisah). Back stage merupakan
tempat dimana kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyampaikan pesan di
front stage. Dengan kata lain, back stage merupakan tempat berjalannya skenario
pertunjukan (kondiri real seseorang). Misalnya ketika kita menjadi seorang
dokter. Pada saat di belakang panggung kita akan menjadi diri kita sendiri,
kita akan merasakan segala perasaan yang ada dalam diri kita (marah, sedih,
kecewa, gelisah). Akan tetapi, ketika kita berada di depan panggung kita harus
bersikap profesional, kita harus profesional).
Contoh lain dari teori
dramaturgi yaitu ketika di rumah, bulek saya berperan sebagai seorang ibu. Ketika
bulek saya berkendara maka bulek saya berperan
sebagai pengendara kendaraaan bermotor yang taat pada peraturan lalu lintas. Ketika
bulek saya di sekolah, maka berganti lagi peran bulek saya. Ketika bertemu
dengan rekan-rekan di sekolah, maka perannya berganti lagi menjadi rekan kerja. Peran tersebut tentunya akan terus berubah. Secara
tidak sadar, sebenarnya kita sedang bermain peran (berdrama). Sejalan dengan
yang diungkapkan Goffman mengenai teori dramaturgi, dimana manusia bertindak
berdasarkan ruang (individu akan terus memainkan perannya sesuai dengan
tempatnya), waktu (, individu akan terus memainkan perannya sesuai dengan
waktunya), dan khalayaknya (dengan siapa kita berkomunikasi), serta tentunya
dengan feedback yang diharapkan.
Referensi :
Waksler, F. C. (1989). Erving Goffman’s
Sociology: An Introductory Essay. Human Studies, 12(1/2), 1–18. http://www.jstor.org/stable/20009043
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi
dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. (edisi
kedelapan). Pustaka pelajar. Yogyakarta
Charles Edgley, Erving Goffman and Modern
Sociology.By Philip Manning. Stanford University Press, 1992. 202 pp. Cloth, $39.50;
paper, $14.95, Social Forces, Volume 73, Issue 2, December 1994, Pages 766–767, https://doi.org.online.uin-suka.ac.id/10.1093/sf/73.2.766
Komentar
Posting Komentar